Mimpi yang Mengantarkan Memilih Islam
- 20-01-2026
- Andromeda Nisa’
(Kisah Mualaf Ibu Sri Apriani Wulandari)
Tidak pernah terlintas sedikitpun di benaknya tentang agama lain. Apalagi sampai pindah agama ke Islam.
Itu yang dilontarkan Sri Apriani Wulandari (60) ketika mengenang perjalanannya menganut Islam.
Lahir dari keluarga penganut Kristen Protestan. Berasal dari Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ibunya perempuan asli Sasak yang muslim. Tapi memilih lelaki Jawa yang Kristen menjadi suaminya. Akhirnya dia memutuskan mengikuti agama suaminya.
Perkawinan itu melahirkan tujuh anak. Semua mengikuti Kristen Protestan. Termasuk Sri Apriani Wulandari yang dibesarkan, dididik, dan diajarkan nilai dan pengetahuan Kristen Protestan oleh bapaknya.
“Saya dibaptis sejak kecil. Pernah mengikuti kataksasi atau sidhi di gereja terbesar di Surabaya. Sidhi yaitu pengakuan setelah seseorang dewasa tentang kepercayaan iman Kristen di depan para jemaat gereja,” kata Ibu Hari, panggilan Sri Apriani Wulandari.
Sudah biasa membawa Alkitab ketika ke gereja. Sering membaca buku kumpulan khotbah setiap pagi dan petang bersama keluarga. Juga hapal lagu-lagu rohani seperti Tuhan Yesus Tidak Berubah Selama-lamanya setiap kali ada acara gereja.
Kota Mataram, Lombok, mayoritas Islam, Selama itu dia dan keluarganya tak terusik dengan imannya. Tapi keyakinannya mulai goyah ketika berkuliah di Surabaya.
Awalnya mengenal Islam dari teman-teman kuliah saat mereka salat, berpuasa, dan berhari raya Idulfitri. Melihat cara teman-temannya melaksanakan ibadah itu membuatnya penasaran dengan Islam. Lantas dia mempunyai teman akrab laki-laki yang yang bisa menjelaskan pemahaman Islam dengan mudah.
”Rasa penasaran mendorong ingin belajar Islam. Beruntung kenal dengan teman akrab yang akhirnya menjadi suami saya,” katanya.
Temannya itu menerangkan Islam tanpa doktrin. Setiap pertanyaan dia menjelasan begitu menentramkan.
Dia menjelaskan konsep tuhan Kristen yang berbeda dengan konsep Islam yang mengajarkan tauhid. Tidak beranak dan tidak pula diperanakan.
Menurutnya ketuhanan Islam masuk akal dibandingkan dengan Kristen. Walupun begitu dia belum memutuskan masuk Islam.
Sampai kemudian teman akrabnya itu menyatakan keinginan menikahinya. Dia menyampaikan ingin membangun rumah tangga secara Islam. Karena itu istrinya harus paham Islam dan melaksanakan amalannya pula.
Mimpi Jilbab
Dia belum memutuskan pinangan itu. Sampai kemudian setiap malam bermimpi. Mimpi yang terus berulang.
”Dalam mimpi itu, saya diberi pilihan mengikuti dua jalan yang berbeda. Di sisi kiri jalan terang tapi tidak berujung. Di sisi kanan, saya melihat orang-orang berpakaian dan menutup wajahnya dengan kain serba putih dengan wajah tersenyum berseri yang akhirnya saya tahu orang-orang itu mengenakan jilbab, pakaian muslimah,” tuturnya.
Di dalam mimpi itu, dia bercerita, tidak sendirian. Dia menggandeng adik perempuannya.
”Sayangnya adik perempuan saya menangis tidak mau saya gandeng dan terus berkata bahwa ia ingin ketemu ibu,” ujar Sri Apriani Wulandari.
Dalam mimpi itu dia heran juga ke mana ibunya pergi. Padahal sudah berjalan dengan adiknya sangat jauh, namun tidak bertemu dengan bapak, ibu maupun saudara lainnya. Dia berjalan terus hingga berada di tepi telaga.
Di tepi telaga dia mendengar ada suara yang mengejutkan. Suara itu berkata,”Kamulah orang yang bisa menyelamatkan semua keluargamu.”
Dalam mimpi itu dia menangis, sebab tidak menemukan keluarganya kecuali adik perempuan yang digandeng itu. ”Mimpi itu terjadi setiap hari hampir satu minggu lamanya,” katanya.
Setelah kejadian itu dia lantas berdoa meminta petunjuk dan kemantapan hati memilih jalan kebenaran agama.
”Ya Tuhan, beri saya petunjuk. Beri saya jalan, kemantapan hati tentang agama yang saya yakini ini. Berilah petunjuk apa yang harus saya pilih dan lakukan atas mimpi yang terjadi setiap harinya ini.”
Hatinya mulai gelisah. Iman Kristennya mulai rapuh.“Ya Tuhan, beri saya petunjuk bahwa agama Islam adalah agama yang benar dan agama yang Engkau berkati,” begitu doanya saat itu dengan suara bergetar.
Beberapa hari kemudian dia mendapat petunjuk melalui mimpi pula untuk memilih Islam. Tanpa berlama-lama dia memutuskan segera Islam. Niat itu masih diam-diam. Tanpa diketahui oleh keluarganya.
Berikutnya dia menerima pinangan dari teman akrabnya. Sebelum menikah dia bersyahadat dulu. Lalu melangsungkan pernikahan tanpa memberitahu orang tuanya di Mataram. Dia menikah dengan wali hakim.
Dia menikah di kota Sumenep, Madura, asal suaminya. ”Alhamdulillah, saya disambut baik dan hangat oleh keluarga besar suami,” ujarnya.
Dia sampai menangis. Merasa bersyukur, Allah mengganti keluarga yang lebih baik yang bisa menerima keadaannya.
Suaminya membimbing dan mengajari ajaran Islam. Membelikan buku panduan tata cara salat dan fikih dasar.
”Ujian terberat saya bukan pada saat saya masuk Islam, tetapi ujian terberat saya setelah saya memeluk Islam dan menikah,” tambahnya lagi.
Sambang Orang Tua
Beberapa hari setelah menikah, dia mengajak suami sambang orang tuanya di Mataram. ”Awal pertama kali bertemu orang tua saya terkejut. Terutama bapak. Karena untuk pertama kalinya anak perempuan tersayang membawa laki-laki datang ke rumah,” cerita Sri Apriani Wulandari.
Momen menegangkan dimulai saat ibunya memergoki mereka berdua di kamar.
Ibu dan bapaknya langsung menginterograsi. Orang tuanya duduk di kursi. Langsung bertanya,” Kok kamu berduaan di kamar, Nduk? Jangan bilang kamu sudah menikah dengan dia? Jangan-jangan kamu juga masuk Islam?”
Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari ibunya. Dia memahami kekhawatiran orang tua. Dia menjawab dengan jujur dan dengan hati-hati. Bahwa sudah menikah dan benar sudah masuk Islam.
Mendengar jawaban itu, seketika ibunya pingsan. Bapaknya hanya diam tidak berkata satu katapun.
”Saya teringat dengan sebuah nasihat dari Imam Syafi’i kurang lebihnya seperti ini: Seandainya hidayah itu bisa kubeli, maka akan kubeli berkeranjang-keranjang untuk kubagikan kepada mereka yang kucintai," katanya.
Sebesar itu harapan kepada keluarganya. Terutama ibunya supaya kembali kepada Islam. Ibunya sekarang sudah berusia 88 tahun. Setiap hari dia masih berharap dan berdoa hidayah Allah sampai ke dalam hati ibunya. Bapak sudah meninggal lebih dulu.
Untuk memperdalam pengetahuan Islam, Sri Apriani Wulandari suka mendengarkan ceramah ustaz yang menjelaskan Al-Qur’an dan hadis dalam majelis taklim maupun secara online.
Menyediakan waktu mengaji dan mambaca Al-Qur’an di Griya Qur’an Masjid Al-Huda Sambikerep. Juga rutin mengikuti kegiatan di masjid sebagai komitmennya menjaga hidayah Islam. (#)