Bapak Soewongso, Sosok Pria Paruh Baya Yang Menjadi Insipiras Masyarakat Perumahan Bumi Wana Lestari
- 20-01-2026
- Yusuf Ardhana Nugraha
Di tengah keseharian warga Perumahan Bumi Wana Lestari atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Perumahan Perhutani—nama Bapak Soewongso sudah tidak asing lagi. Sosok pria paruh baya ini dikenal sebagai pribadi yang bersahaja, ramah, dan dekat dengan lingkungan sekitar. Beliau bukan hanya penghuni lama di kawasan tersebut, tapi juga menjadi panutan dalam hal kesederhanaan, ketekunan, dan semangat hidup yang membumi.
Lahir di Kuningan, Jawa Barat pada 19 Februari 1947, Bapak Soewongso merupakan putra kedua dari lima bersaudara. Masa kecil hingga remajanya dihabiskan di kota Bandung. Dari bangku SD hingga SMP, Ketika memasuki usia yang lebih dewasa beliau memutuskan pergi meninggalkan kota masa kecilnya dan menuntut ilmu di Sekolah Kehutanan Menengah Atas/ SKMA di kota Bogor. Beliau tumbuh sebagai anak yang mandiri, penyayang alam, dan gemar mengikuti kegiatan di luar ruangan—karakter yang akhirnya menuntunnya memilih jalur karier di bidang kehutanan.
Pilihan itu terbukti tepat. Kariernya di Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perum Perhutani) bukan sekadar pekerjaan, tetapi cerminan dari jiwa dan prinsip hidupnya. Beliau menjalani profesi itu dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi, mengabdi di berbagai wilayah kerja dengan cakupan yang luas dan menantang. Tidak heran, Pada awal pembangunan ketika Perumahan Bumi Wana Lestari (Perumahan Perhutani) masih berfungsi sebagai rumah bagi para pegawai Perhutani, Bapak Soewongso telah lebih dulu menetap di sana dan menjadi bagian penting dari komunitas tersebut hingga kini.
Bersama sang istri, Ibu Susilowati (Wonosobo, 4 September 1953), beliau dikaruniai dua anak yang kini juga menorehkan jejak sukses masing-masing. Putra pertamanya, Eko Wibisono, S.Hut., M.M. mengikuti jejak sang ayah dengan berkarier dibidang yang sama dan kini menjadi bagian dari Perhutani Divisi Regional Jawa Timur. Sementara putri bungsunya, Dini Suryaningsih, S.H., berprofesi sebagai Notaris dan PPAT yang telah memiliki kantor sendiri di Kota Gresik. Kesuksesan kedua anaknya menjadi bukti bahwa nilai-nilai hidup yang beliau tanamkan sejak dini—tentang disiplin, kemandirian, dan tanggung jawab—membuahkan hasil nyata.
Di Lingkungan Perumahan, Bapak Soewongso atau yang biasa dikenal warga dengan nama Bapak Wongso memiliki peran aktif dalam berbagai kegiatan. Mulai dari kepengurusan di PWRI di tingkat Kecamatan Sambikerep sebagai wakil ketua, anggota diperkumpulan pensuinan Perhutani di Perumahan Bumi Wana Lestari, dan juga sebagai penasihat beserta pengurus takmir masjid Al-huda sampai dengan kepengurusan pada tingkat RT/Kampung beliau diberikan kepercayaan sebagai seksi Pembangunan Lingkungan oleh masyarakat sekitar. Ilmu dan kegemaran beliau yang suka sekali dengan tanaman mulai dari pembibitan sampai dengan berbuah menjadikan Bapak Soewongso sebagai teladan bagi warga di lingkungan sekitar dalam hal penanaman dan pembibitan tanaman dirumah.
Banyaknya kegiatan dan peranan aktif beliau membuat kehadiran Bapak Soewongso sebagai warga dirasakan kuat oleh masyarakat sekitar. Beliau dikenal sebagai pribadi yang tekun dan jarang sekali absen dalam mengikuti kegiatan keagamaan seperti pengajian rutin 2 mingguan yang dilaksanakan di RW 07 dan kajian-kajian yang diselenggarakan serta dilaksanakan di Masjid Al-Huda. Hampir setiap waktu shalat, beliau terlihat hadir untuk berjamaah di Masjid, memberi contoh nyata bahwa ibadah tidak hanya soal hubungan pribadi dengan Tuhan, tetapi harapannya juga memberi pengaruh baik bagi lingkungan.
“Shalat berjamaah itu lebih utama 27 derajat daripada shalat sendirian,” kutipnya dari hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Kalimat ini bukan hanya Beliau ucapkan, tapi benar-benar Beliau jalani. Beliau percaya bahwa kehadiran di masjid untuk sholat berjamaah dan mengikuti kajian rutin adalah salah satu bentuk kebermanfaatan sosial, dan menghidupkan masjid adalah tanggung jawab bersama. Diharapkan dari kebiasaan beliau dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda agar lebih aktif memakmurkan masjid, karena sebagaimana dalam firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 18 yang artinya :
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah...”
Bapak Soewongso adalah gambaran nyata bahwa kebaikan tidak selalu harus datang dari jabatan tinggi atau gelar kehormatan. Beliau hadir sebagai tetangga yang menyapa dengan hangat, rekan yang ringan tangan membantu, dan teladan yang menginspirasi lewat tindakan sederhana namun konsisten. Di tengah zaman modern yang serba cepat, beliau mengingatkan kita bahwa hidup bisa tetap berarti dengan menjadi pribadi yang jujur, tulus, dan peduli terhadap sesama bukan hanya terhadap lingkungan sekitar namun juga dengan sesama manusia.