“ISTIQAMAH DI JALAN ALLAH DAN HIDUP BERSAMA AL-QUR’AN” OLEH SYEKH MUHAMMAD JABER

“ISTIQAMAH DI JALAN ALLAH DAN HIDUP BERSAMA AL-QUR’AN” OLEH SYEKH MUHAMMAD JABER

Ahad, 16 Agustus 2026, Pukul 06.00 WIB – selesai

Perumahan Perhutani, Jalan Sambiroto 1 Blok N No. 18, Kelurahan Sambikerep, Surabaya.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, Islam, kesehatan, kesempatan, dan yang paling penting, kesempatan untuk hadir dalam majelis ilmu.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umat beliau yang istiqamah mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.

Yang kami hormati dan kami muliakan, para ustaz dan tokoh yang hadir, Ketua RW 07 Bapak Imam Hambali beserta para mantan Ketua RW 07, para takmir Masjid Al-Huda, seluruh pengurus, serta Bapak-Ibu dan saudara-saudaraku jamaah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Alhamdulillah, kajian ini telah berjalan bertahun-tahun. Kalau sebuah majelis ilmu bisa dipertahankan sejak dahulu sampai hari ini, itu adalah nikmat besar dari Allah. Mudah-mudahan Allah menjaga kita agar tetap istiqamah sampai akhir hayat.

1. ISTIQAMAH ADALAH AMALAN YANG SANGAT DICINTAI ALLAH

Bapak-Ibu yang dimuliakan Allah,

Dalam kehidupan ini, jangan meremehkan amal yang kecil apabila dilakukan terus-menerus.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling terus-menerus, walaupun sedikit.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka jangan merasa bahwa dua rakaat shalat Dhuha itu terlalu sedikit.

Jangan merasa membaca Al-Qur’an hanya beberapa halaman itu tidak berarti.

Jangan merasa hadir dalam kajian hanya sebentar itu tidak ada manfaatnya.

Yang penting adalah istiqamah.

Sedikit tetapi terus dilakukan, insya Allah jauh lebih baik daripada banyak tetapi hanya sesekali.

Kalau kita mampu membaca Al-Qur’an setiap hari, teruskan.

Kalau mampu shalat Dhuha dua rakaat, teruskan.

Kalau mampu puasa Senin-Kamis, teruskan.

Kalau mampu menghadiri kajian setiap pekan, teruskan.

Karena yang kita cari bukan sekadar banyaknya amal, tetapi bagaimana kita meninggal dalam keadaan istiqamah.

2. KABAR GEMBIRA BAGI ORANG YANG ISTIQAMAH

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka para malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.’”

(QS. Fussilat: 30)

Masya Allah.

Ketika seorang mukmin istiqamah, Allah memberikan ketenangan dan kabar gembira.

Ketika menghadapi kematian, jangan takut.

Ketika meninggalkan dunia, jangan bersedih.

Karena Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang beriman dan istiqamah.

Maka target terbesar dalam hidup kita bukan hanya memiliki rumah, kendaraan, usaha, jabatan, atau harta.

Target terbesar kita adalah mendapatkan ridha Allah dan masuk surga-Nya.

3. MAJELIS ILMU ADALAH MAJELIS YANG DINAUNGI RAHMAT ALLAH

Bapak-Ibu,

Kita jangan menganggap remeh majelis seperti ini.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ketika suatu kaum berkumpul untuk berdzikir kepada Allah, mereka akan dikelilingi para malaikat, diliputi rahmat, diturunkan ketenangan kepada mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.

(HR. Muslim)

Bahkan dalam hadis lain, Allah mengampuni orang-orang yang hadir dalam majelis dzikir tersebut.

Ada orang yang mungkin datang bukan karena niat awal mengikuti kajian. Misalnya hanya mengantar seseorang, menunggu seseorang, atau kebetulan duduk di tempat kajian.

Namun ketika dia duduk bersama orang-orang yang berdzikir dan menuntut ilmu, ia pun mendapatkan bagian dari rahmat Allah.

Maka jangan bosan datang ke masjid.

Jangan bosan menghadiri majelis ilmu.

Jangan bosan membaca Al-Qur’an.

Bisa jadi justru majelis seperti inilah yang menjadi sebab Allah mengampuni dosa-dosa kita.

4. JANGAN MERASA BISA ISTIQAMAH TANPA PERTOLONGAN ALLAH

Bapak-Ibu yang dirahmati Allah,

Kita harus menyadari satu hal:

Kita tidak akan mampu istiqamah tanpa pertolongan Allah.

Hari ini semangat beribadah, besok belum tentu.

Hari ini rajin membaca Al-Qur’an, besok bisa malas.

Hari ini hati kita lembut, besok bisa keras.

Karena hati manusia mudah berubah.

Rasulullah ﷺ sering berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

(HR. Tirmidzi)

Perhatikan doa Nabi ﷺ.

Kalau Nabi Muhammad ﷺ saja banyak berdoa agar hatinya diteguhkan, apalagi kita.

Maka jangan pernah mengatakan:

“Saya sudah kuat.”

“Saya sudah banyak ilmu.”

“Saya pasti istiqamah.”

Tidak.

Kita ini lemah.

Yang membuat kita istiqamah adalah pertolongan Allah.

Karena itu, mari perbanyak doa:

“Ya Allah, teguhkan hati kami di atas agama-Mu. Jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk.”

5. MELAWAN HAWA NAFSU ADALAH BAGIAN DARI ISTIQAMAH

Istiqamah tidak selalu mudah.

Kadang kita harus melawan rasa malas.

Hari Ahad pagi sebenarnya ingin tidur lebih lama, tetapi kita bangun dan datang ke majelis.

Malam hari ingin terus tidur, tetapi kita bangun untuk shalat.

Ada kesempatan melakukan dosa, tetapi kita tinggalkan karena takut kepada Allah.

Itulah perjuangan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.”

(QS. An-Nazi’at: 40–41)

Jadi ketika hawa nafsu mengajak kepada sesuatu yang tidak diridhai Allah, kita harus mengatakan:

“Tidak! Saya memilih Allah.”

Karena surga membutuhkan perjuangan.

6. AL-QUR’AN BUKAN SEKADAR UNTUK DIBACA, TETAPI UNTUK MENJADI PETUNJUK HIDUP

Bapak-Ibu,

Kita sering mendengar bahwa membaca Al-Qur’an mendapatkan pahala.

Benar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.”

(HR. Tirmidzi)

Tetapi manfaat Al-Qur’an tidak berhenti pada pahala.

Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan.

Allah berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”

(QS. Al-Isra’: 9)

Al-Qur’an mengajarkan bagaimana kita menjadi manusia yang baik.

Bagaimana menjadi suami yang baik.

Bagaimana menjadi istri yang baik.

Bagaimana mendidik anak.

Bagaimana mencari rezeki yang halal.

Bagaimana menghadapi masalah.

Bagaimana menghadapi kesedihan.

Bagaimana menghadapi kematian.

Dan bagaimana mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.

7. AL-QUR’AN ADALAH SYIFA’

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

(QS. Al-Isra’: 82)

Al-Qur’an adalah syifa, penawar dan rahmat.

Kita tetap diperintahkan berikhtiar ketika sakit: berobat, berkonsultasi kepada dokter, menjaga kesehatan, dan sebagainya.

Namun kita yakin bahwa kesembuhan pada akhirnya datang dari Allah.

Al-Qur’an juga menjadi penawar bagi penyakit hati: kesombongan, iri, dengki, putus asa, cinta dunia yang berlebihan, dan berbagai penyakit hati lainnya.

8. SURAT AL-FATIHAH DAN RUQYAH

Dalam hadis sahih, para sahabat pernah membacakan Surah Al-Fatihah kepada seseorang yang terkena sengatan.

Dengan izin Allah, orang tersebut sembuh.

Ketika kisah itu disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, beliau membenarkannya.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an dapat digunakan sebagai ruqyah syar’iyyah, dengan keyakinan bahwa yang menyembuhkan adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bukan ayatnya yang memiliki kekuatan secara mandiri.

Bukan orang yang membacanya yang memiliki kekuatan.

Tetapi Allah-lah Asy-Syafi, Dzat Yang Maha Menyembuhkan.

9. HIDUPKAN AL-QUR’AN DI RUMAH

Bapak-Ibu,

Jangan sampai kita memiliki Al-Qur’an di rumah, tetapi hanya tersimpan di lemari.

Jangan sampai Al-Qur’an hanya dibuka ketika ada orang meninggal.

Mari hidupkan Al-Qur’an di rumah.

Setiap hari ada bacaan Al-Qur’an.

Suami membaca.

Istri membaca.

Anak-anak membaca.

Kalau belum mampu satu juz, satu halaman.

Kalau belum mampu satu halaman, beberapa ayat.

Yang penting istiqamah.

Allah tidak melihat kita harus membaca sebanyak-banyaknya setiap hari, tetapi jangan sampai hubungan kita dengan Al-Qur’an terputus.

10. KEUTAMAAN SURAT AL-BAQARAH

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bacalah Surah Al-Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah kerugian, dan para tukang sihir tidak mampu menghadapinya.”

(HR. Muslim)

Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan Surah Al-Baqarah di dalamnya.”

(HR. Muslim)

Masya Allah.

Karena itu, mari kita biasakan membaca Surah Al-Baqarah di rumah.

Tidak harus selesai dalam satu waktu bagi yang belum mampu.

Bisa dibaca bertahap.

Hari ini beberapa halaman.

Besok dilanjutkan.

Kemudian dilanjutkan lagi sampai selesai.

Yang penting jangan berhenti.

11. AL-QUR’AN ADALAH SAHABAT KITA

Bapak-Ibu,

Mukjizat Nabi Musa ‘alaihissalam adalah tongkatnya.

Tetapi tongkat itu adalah mukjizat khusus yang Allah berikan kepada Nabi Musa.

Nabi Muhammad ﷺ diberikan mukjizat terbesar berupa Al-Qur’an.

Dan berbeda dengan mukjizat para nabi terdahulu yang terkait dengan masa mereka, Al-Qur’an tetap terjaga hingga hari kiamat.

Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami pula yang menjaganya.”

(QS. Al-Hijr: 9)

Maka jangan kita biarkan mukjizat terbesar ini hanya menjadi pajangan di rumah.

Baca. Pahami. Amalkan. Ajarkan kepada keluarga.

12. JANGAN MENUNDA UNTUK BERAMAL

Bapak-Ibu yang dirahmati Allah,

Kita tidak tahu kapan Allah memanggil kita.

Hari ini kita masih duduk di majelis.

Besok belum tentu.

Hari ini kita masih bisa membaca Al-Qur’an.

Besok belum tentu.

Hari ini kita masih bisa shalat.

Besok belum tentu.

Maka jangan menunggu tua untuk berubah.

Jangan menunggu kaya untuk bersedekah.

Jangan menunggu sempat untuk membaca Al-Qur’an.

Jangan menunggu sakit untuk mendekat kepada Allah.

Mulai hari ini.

Sedikit tidak apa-apa.

Yang penting istiqamah.

PENUTUP

Bapak-Ibu dan saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah,

Mari kita pulang dari majelis ini membawa beberapa amalan sederhana:

Pertama, jaga shalat lima waktu.

Kedua, baca Al-Qur’an setiap hari.

Ketiga, biasakan hadir dalam majelis ilmu.

Keempat, tinggalkan dosa dan maksiat sedikit demi sedikit.

Kelima, jangan pernah berhenti berdoa agar Allah meneguhkan hati kita.

Baca terus doa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Semoga Allah menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang istiqamah.

Semoga Allah menjaga keluarga kita.

Semoga Allah menjaga rumah kita.

Semoga Allah memberikan keberkahan dalam rezeki kita.

Semoga Allah memberikan kesehatan, ketenangan, dan keselamatan kepada kita.

Semoga Allah menjadikan rumah kita rumah yang hidup dengan Al-Qur’an.

Semoga Allah menjadikan anak-anak kita anak-anak yang mencintai Al-Qur’an.

Dan semoga Allah mengumpulkan kita semua kelak di dalam Jannatul Firdaus bersama Rasulullah ﷺ.

اللهم ثبت قلوبنا على دينك، واغفر ذنوبنا، وارحمنا، واهدنا، وتقبل أعمالنا، واجعلنا من أهل القرآن وأهل الجنة.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.